Category Archives: Berita SDIT

Silaturrahmi dan Sharing Bersama Sekolah Alam SD Daarun Nisa Serang-Banten

 

Silaturrahmi dan Sharing Bersama Sekolah Alam SD Daarun Nisa Serang-Banten

Ketika sebuah karunia menjadi nikmat maka pantaslah bersyukur yang kami lakukan.

Di minggu ini, hari Rabu 9 November 2016, untuk kali kedua sekolah kami dikunjungi oleh lembaga pendidikan yang jarak wilayahnya lumayan tidak dekat, dari Serang-Banten yang kebetulan Pengurus nya adalah sahabat karib Ketua dan Direktur Yayasan Dinamika Umat semasa kuliah di UIN Jakarta.

Kedatangan teman-teman dari Sekolah Alam di Banten ini kami sambut dengan terbuka dan rasa senang karena kami diberi kepercayaan untuk menjadi model contoh sekolah yang bisa menjalankan dan melaksanakan tanggung jawab kebersihan tanpa dibantu oleh petugas khusus kebersihan.

Di kunjungan ini, teman-teman yang ingin sharing pun tak hanya bertanya banyak hal tentang konsep Sekolah Bersih Tanpa Cleaning Service.

Sharing pendapat dan masukan-masukan dari teman-teman pun menjadi poin penting untuk kami, karena kami menyadari betul masih banyak kekurangan dalam menjalankan slogan tersebut.
Dan kami menjadi lebih bersemangat untuk terus belajar konsep kebersihan secara komprehensif secara teori dan praktis.

Sekolah Bersih itu Menjadi, bukan Memiliki,
Sekolah Bersih itu Memberatkan, tapi Menyenangkan,
Sekolah Bersih itu Tidak Mudah, tapi Bisa diwujudkan,
Sekolah Bersih itu Keunggulan.

Terima kasih atas kunjungan teman-teman, hingga kami bisa terus belajar dan belajar menjadi sekolah pembelajar.

Foto Dinamika Umat.
Foto Dinamika Umat.
Foto Dinamika Umat.

 

 

Sekolah Anak Kita

Dr.H.Hasan Basri Tanjung, MA
Ketua Yayasan Dinamika Umat/Dosen UNIDA Bogor
*****

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pilu rasanya hati melihat kenyataan yang menimpa anak-anak kita belakangan ini. Peristiwa kekerasan dan pelecehan seksual seakan menjadi rangkaian mata rantai yang belum juga bisa diakhiri.

Sebagian anak mengalami nasib malang karena dianiaya oleh orang tuanya sendiri. Begitu pula seorang anak SD menganiaya temannya hingga tewas. Hingga seorang gadis kecil ditemukan tewas di dalam kardus setelah mengalami kekerasan seksual.

Sejatinya, anak-anak adalah perhiasan hidup dunia yang menyenangkan hati orang tua. Mereka dilahirkan bersih, jujur dan tiada nista, fitrah dan selalu condong kepada kebaikan. (HR Bukhari). Anak kecil selalu tampil apa adanya sehingga kehadiran mereka selalu dinanti dan dirindukan dalam keluarga (QS 3: 14, 18: 46).

Anak belajar dari kehidupan sehingga mereka adalah produk masa yang dilaluinya. Karena itu, kita wajib menyediakan tempat-tempat belajar (sekolah) terbaik bagi mereka.

Ada empat sekolah yang membentuk kepribadian mereka. Pertama, keluarga. Sekolah pertama bagi anak adalah keluarga. Dalam sebuah keluarga dibangun tata sosial dan etika seorang anak. Ayah dan ibu menjadi guru utama untuk menanamkan akidah tauhid, syariat, dan akhlak (QS 2: 132-133, 31: 13-19).

Sikap, kata, dan perbuatan orang tua menjadi model dan rujukan utama bagi anak (kurikulum). Dr M Nasih Ulwan dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam menyebutkan, keluarga menjadi wadah menanam akidah pohon tauhid dan syariat dengan keteladan, pembiasaan akhlak karimah, serta nasihat yang baik. Lalu, proses itu dikawal dengan pengawasan maksimal agar tumbuh menjadi pohon yang baik (syajaratun thayyibah).

Kedua, lembaga pendidikan (sekolah). Sekolah menjadi rumah kedua bagi anak, di mana tata sosial dibangun lebih terbuka. Sekolah harus menjadi komunitas baru yang aman dan nyaman agar anak bisa tumbuh normal bersama teman sebayanya.

Guru layaknya orang tua kedua bagi anak. Kurikulum yang baik akan membantu keluarga dalam pembiasaan sikap, kata, dan perilaku anak. Orang tua wajib memilih sekolah terbaik bukan termahal, yakni sekolah yang mengajarkan akidah lurus, syariat yang benar, dan akhlak yang baik.

Ketiga, lingkungan. Lingkungan sosial paling besar pegaruhnya, yakni kerabat, tetangga, teman sebaya, publik figur, tokoh masyarakat, pejabat negara, dan lainnya. Kejahatan, kekerasan, dan penyimpangan seksual sering kali dilakukan oleh orang dekat dan dikenal.

Orang tua harus memastikan anak pergi dengan siapa, di mana, main apa, dan berapa lama. Anak juga bisa belajar dari lingkungan alam sekitarnya. Jika alam masih terjaga, akan berdampak positif pada diri anak. Sebaliknya, jika alam rusak, hutan ditebang dan dibakar, polusi udara, asap kabut, dan hewan yang mati juga akan buruk bagi anak. Untuk itu, wajib bagi kita menjaga kelestarian alam semesta sebagai sekolah buat anak-anak masa depan.

Keempat, media. Sekolah keempat adalah media massa (cetak, elektronik, dan online), media sosial (Facebook, Twitter, dll), dan media komunikasi (HP, gadget). Dampak buruk siaran TV, internet, game online, gadget begitu nyata. Pornografi dan pornoaksi begitu mudah diakses.

Tayangan TV yang tidak mendidik dan HP yang merenggangkan hubungan keluarga. Warnet menjadi “sekolah” buruk yang bertebaran 24 jam. Anak pun bisa menjadi pribadi yang lemah, malas, dan pesimistis. (QS 4: 9).

Tidak ada kata lain kecuali kita harus hijrah berjamaah dari kemaskisatan, kezaliman, ketidakpedulian, kepura-kepuraan (ad-dzulumat) menuju ketaatan, keadilan, kepedulian, kejujuran (an-nuur). Kembali kepada keluarga dengan kasih sayang.

 

Peletakan Batu Pertama

Selaga puji hanya milik Allah SWT yang telah memberikan karunia yang begitu besar kapada kami bahkan karunia yang tak terhingga. Alhamdullah pada tanggal 03 Agustus 2015 telah kami laksanakan peletakan batu pertama yang dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Dinamika Umat KH. Hasan Barti Tanjung, MA, Ust Safrudin Al Hafidz, Pengurus Yayasan dan Bapak/Ibu Guru bersama seluruh murid SIT Dinamika Umat. Kanrunia ini kami dapatkan dari Bank BJB pusat alokasi dari pemerintah Jawa Barat sebanyak 5 Lokal Ruang Kelas Baru {RKB}.

Bantuan yang besar ini merupakan wasilah dari Ust Jabal Naustion, beliaulah yang membuka jalan kepada Ketua Yayasan Dinamika Umat untuk langsung berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan yang akrab kita sapa Kang Aher. Ini merupakan karunia tak ternilai di tahun ini. Kami mohon doa kepada seluruh pembaca dan kepada seluruh orang tua murid SIT Dinamika Umat semoga Allah memberikan kekuatan kapada kami untuk mengemban amanah ini dengan baik dan di jauhkan dari fitnah serta senantiasa ikhlas dalam membimbing umat.

peletakan batu 3

Ketua Yayasan Dinamika Umat KH. Hasan Basri Tanjung

6

Dir. Pendidikan dan SDI Hj. Fatimah Sururin Hasan, M.Pd.I

peletakan batu 2

KH. Hasan Basri Tanjung, MA

4

Kepala SMPIT Dinamika Umat Bpk. Lukmanudin Adiguna, S.Pd.I

7

Wakil Kepala Sekolah SDIT dan SMPIT Ibu Leli Amelia, S.Pd.I

Peletakan Batu

Murid SIT Dinamika Umat

Peletakan Batu 1

Pengurus Yayasan dan Bapak/Ibu Guru SIT Dinamika Umat

5

Hj. Fatimah Surui Hasan, M.Pd.I

Di Depan Surga

H. Hasan Basri Tanjung, MA.
(Ketua Yayasan Dinamika Umat/Dosen Unida Bogor)

*****
“ …. dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).”(QS.3:27

Ketika kita melakukan perjalanan dan melewati tempat pemeriksaan, mulai dari yang sederhana hingga yang besar (antar negara), lalu tidak dilakukan pemeriksaan, bahkan disambut dengan kehormatan, sungguh sebuah penghargaan luar biasa. Biasanya, hal ini hanya berlaku  untuk orang-orang yang sangat penting (VVIP), yakni kepala negara, pemerintahan atau tamu negara. Mengapa mendapat privillage (keistimewaan) itu ? Mereka dipandang layak menerimanya atas kedudukan, prestasi dan karyanya.

Semester Genap

Setelah dua minggu liburan, Proses Belajar Mengajar Semester Genap insyaAllah akan dimulai hari Senin, 5 Januari 2015. murid masuk dengan penuh semangat dan membawa harapan baik bagi orang tua, agama, nusa dan bangsa. Semoga menjadi anak yang sholeh. salam semangat dari Pa Asep (KS SDIT) dan para guru.

Bi Ghairi Hisaab

H. Hasan Basri Tanjung, MA.
(Ketua Yayasan Dinamika Umat/Dosen Unida Bogor)
*****
“ …. dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).”(QS.3:27)

Mukaddimah
Bismillahirrahmanirrahim. Salah satu karunia Allah yang paling berharga adalah waktu. Waktu itu memang unik. Ia datang sesuai masanya dan tidak pernah berhenti. Jika ia lewat tak akan pernah kembali. Awal dan akhir segala sesuatu selalu berdasar waktu. Semua ibadah berkaitan dengan waktu, bahkan sah tidaknya tergantung waktu. Begitu pentingnya, Allah SWT. berulangkali bersumpah atas nama waktu. Pada setiap pergantian waktu, kita dituntut untuk ingat kembali kepada-Nya. Tahun Hijriyah 1436 sudah berjalan dan Bulan kelahiran Nabi SAW yakni Rabiul Awal pun tiba. Tahun Miladiyah segera berganti ke Tahun Baru 2015. Sepatutnya, disetiap pergantian waktu ada refleksi dan introsfeksi diri. Seberapakah amal saleh dan amal buruk yang dilakukan ? Sebab, semua itu akan dihitung dan dibalas di Hari Perhitungan (Yaumul Hisaab). Semoga tulisan ini mengingatkan kita agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Amiin.

Performance SDIT Dinamika Umat

Hari Sabtu, Tanggal 13 Desember 2014 di gedung SDIT Dinamika Umat
Kegiatan ini diharapkan dapat memfasilitasi bakat dan minat peserta didik di sekolah kami.

Melupakan !

H. Hasan Basri Tanjung, MA.
(Ketua Yayasan Dinamika Umat/Dosen Unida Bogor)
*****
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik “(QS.59:19)

Mukaddimah
Bismillahirrahmanirrahim. Bulan Muharram 1436 H berjalan begitu cepat.   Rasanya waktu bergulir begitu saja. Umur semakin bertambah, meski pun hakekatnya berkurang jatah hidup di dunia yang fana ini. Visi dan misi hidup Kita sebagai Muslim mestinya jauh ke depan yakni mempersiapkan hidup akhirat yang abadi dengan karya besar yang membanggakan. Berbagai kenikmatan yang kita raih adalah karunia Ilahi yang patut kita syukuri, agar lebih bermakna ukhrawi. Jika kita tidak pandai bersyukur, niscaya karunia itu akan sirna secara perlahan tapi pasti. Salah satu sifat mendasar manusia adalah salah dan lupa. Al-khata’ wa an-nisyan sifatu min al-insan (salah dan lupa adalah sifat manusia). Namun, melupakan karunia atau kebaikan yang diterima dari Allah SWT  adalah penyakit  berbahaya. Mengapa manusia mudah melupakannya ? Semoga tulisan singkat ini mengingatkan kita agar pandai berterima kasih. Insya Allah, amin.