Melupakan !

H. Hasan Basri Tanjung, MA.
(Ketua Yayasan Dinamika Umat/Dosen Unida Bogor)
*****
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik “(QS.59:19)

Mukaddimah
Bismillahirrahmanirrahim. Bulan Muharram 1436 H berjalan begitu cepat.   Rasanya waktu bergulir begitu saja. Umur semakin bertambah, meski pun hakekatnya berkurang jatah hidup di dunia yang fana ini. Visi dan misi hidup Kita sebagai Muslim mestinya jauh ke depan yakni mempersiapkan hidup akhirat yang abadi dengan karya besar yang membanggakan. Berbagai kenikmatan yang kita raih adalah karunia Ilahi yang patut kita syukuri, agar lebih bermakna ukhrawi. Jika kita tidak pandai bersyukur, niscaya karunia itu akan sirna secara perlahan tapi pasti. Salah satu sifat mendasar manusia adalah salah dan lupa. Al-khata’ wa an-nisyan sifatu min al-insan (salah dan lupa adalah sifat manusia). Namun, melupakan karunia atau kebaikan yang diterima dari Allah SWT  adalah penyakit  berbahaya. Mengapa manusia mudah melupakannya ? Semoga tulisan singkat ini mengingatkan kita agar pandai berterima kasih. Insya Allah, amin.

Pura-pura Amnesia
Dalam Kitab Hadits, Riyaadhus Shalihiin karya ulama besar Imam Nawawi, pada bab muroqobah (merasa selalu diawasi oleh Allah), dinukil sebuah riwayat yang menarik dan penuh hikmah. Abu Hurairah Ra pernah bercerita, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW berkisah tentang tiga orang Bani Israel zaman dahulu yang hidup miskin dan hina karena mengidap penyakit yang menjijikkan, yaitu berkulit belang, berkepala botak dan buta. Allah SWT ingin menguji mereka dengan kenikmatan melalui seorang Malaikat yang menyerupai manusia.
Si Malaikat bertanya kepada si Kulit Belang : “Apa yang paling kau sukai ?” Ia menjawab : “Kulit yang indah dan hilangnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku”. Si Malaikat itu pun mengusapnya dan sembuh. Malaikat bertanya lagi : “Harta apa yang kau inginkan” ? Ia menjawab : “Unta”. Ia pun diberi seekor unta yang bunting dan semoga Allah memberkahinya. Kemudian, Malaikat itu mendatangi si Kepala Botak dengan pertanyaan sama. Ia menjawab : “Rambut yang indah agar orang jijik kepadaku”. Setelah diusap kepalanya, maka penyakitnya pun sembuh dan tumbuh rambut yang indah. Malaikat bertanya lagi : “Harta apa yang kau sukai ?”. Ia menjawab : Sapi. Malaikat memberinya seekor sapi bunting dan mendoakannya. Begitu juga dengan si Buta. Ia menjawab : “Kiranya Allah mengembalikan penglihatanku”. Malaikat itu mengusap matanya dan ia pun bisa melihat lagi. Adapun harta yang ia sukai adalah  Kambing. Lalu Malaikat itu memberinya Kambing yang sudah beranak.

Seiring waktu berlalu, unta, sapi dan kambing pun beranak pinak. Kini, mereka telah menjadi orang kaya dan terpandang. Tiba masanya uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) sebagai orang kaya sukses. Malaikat mendatangi yang pertama : “Saya orang miskin yang sudah kehabisan bekal dalam perjalanan. Hanya Tuan yang saya harapkan dapat menolong. Demi Allah yang telah memberi Tuan warna kulit bagus dan harta banyak, saya minta seekor Unta saja”. Ia menjawab : “Masih banyak hak-hak (urusan) yang harus saya penuhi”. Malaikat berkata : “Saya seperti mengenal Tuan. Bukankah dulu Tuan berpenyakit kulit belang dan miskin, lalu diberi harta oleh Allah ? Ia jawab : “Aku mewarisi harta ini turun termurun”. Malaikat lalu mengingatkan : “Jika Tuan berdusta, semoga Allah menjadikan Tuan seperti dulu lagi”.
Kemudian Malaikat itu menemui yang kedua. Rupanya  jawaban sama, yakni tidak mengakui asal muasal karunia yang diterimanya. Malaikat menjumpai yang ketiga. Ia mendapat jawaban menakjubkan. “Dahulu aku seorang buta. Lalu Allah memulihkan penglihatanku. Jadi ambillah apa yang Anda suka karena Allah”. Malaikat itu pun berkata : ”Jaga sajalah hartamu. Kau hanya diuji dan kau telah lulus ujian ini. Tidak seperti kedua temanmu”. (HR. Muttafaq ‘alaih).

Kisah ini memberi banyak pelajaran penting yakni :
Pertama ; Kebaikan (harta kekayaan) dan keburukan (musibah) adalah cobaan semata untuk mengetahui siapa bersyukur dan terbaik perbuatannya (QS. 20:47,21:35,47:31,67:2,89:16-17). Nyatanya, banyak orang yang lulus dalam ujian penderitaan, tapi tidak sedikit yang gagal dalam ujian kenikmatan.  Dua dari tiga orang Bani Israel tersebut tidak pandai berterima kasih. Allah memberikan karunia yang tak terhitung banyaknya (QS.14:34) agar manusia pandai bersyukur (QS.22:36,45:12,35:12,16:78). Namun, kebanyakan manusia kufur atau sedikit yang bersyukur (QS. 23:78,67:23,40:61,7:10).
Kedua ; Manusia boleh lupa dan salah, namun hanya dalam urusan kecil atau keseharian. Allah SWT. mengulang-ulang 31 kali dalam surah ar-Rahman, agar jangan lupa bersyukur. Lalu, Kita berdoa agar jangan dihukum atas kesalahan dan kelupaan (QS.2:286). Tapi tidak boleh lupa dalam urusan besar atau amanah yang diemban untuk umat. Salah dan lupa itu wajar. “Tapi kalau selalu lupa itu mah disegaja”. Kata Bang Haji Rhoma Irama.

Ketiga ;  Ketika manusia lupa (melupakan) kebaikan orang lain, maka wajib diingatkan. Jika ia mau mendengar nasehat, maka ia akan selamat.  Tetapi,  jika tidak menggubris bahkan berdalih untuk menutupinya, maka ia akan mendapat azab Allah SWT. (QS.2:6-7,14:7-8). Kedua orang tersebut di atas sudah diingatkan oleh Malaikat, namun mereka tidak mengakuinya.
Keempat ; Jika kita mendapat kebaikan diwaktu senang, itu mudah dilupakan. Tetapi, kalau disaat sulit, pasti tidak akan terlupakan. Ketiga orang tersebut di atas, mendapat bantuan disaat sulit. Tetapi mengapa dua diantaranya melupakan ?     Karena setan menakut-nakutinya dengan kemiskinan (QS.2:268 4:37). Padahal, sekaya apapun manusia, dimata Allah tetap fakir dan tak berdaya (QS.35:15-16).

Khatimah
Sejatinya, banyak hal yang tak patut dilupakan, karena tercatat dengan rapi oleh Malaikat Raqib dan ‘Atid (kiraman katibin). Sungguh tak patut melupakan perbuatan dosa dimasa lampau, baik kepada Allah maupun kepada sesama. Justru, kita dianjurkan untuk mengingat-ingatnya agar introspeksi diri. Begitu pula dengan perbuatan baik orang lain kepada kita, apalagi disaat kesusahan.  Sebaliknya, kita harus melupakan perbuatan baik yang pernah dilakukan. Boleh jadi, kita sering mengingat infak dan wakaf yang kita salurkan. Itu hanya menambah kesombongan dan mengurangi kebaikan. Kita mesti mengingat kebaikan orang lain yang kita terima, apalagi diwaktu kita susah dan miskin dahulu. Kini, saatnya untuk berterima kasih dan membalas jasa mereka dengan yang lebih baik, terutama kedua orang tua kita.  Tetapi, jika kita melupakan kebaikan mereka, maka mudah Allah membalikkan keadaan. Kiranya, kisah Bani Israel di atas  menjadi pelajaran. Allahu a’lam bish-shawab. ***

Leave a Reply