Adab Kepada Guru

Adab Terhadap Guru“Payung di Waktu Shubuh”

Bismillahirrahmanirrahim.
Teringat masa -masa kecil dahulu, kisaran umur 7-12 tahun, saat usia SD di Patihe, Labusel. Betapa hormat kepada para guru2 SD, bukan hanya di sekolah tetapi juga di luar sekolah. Bahkan, nyaris rasa hormat itu keliru, yakni menghindar ketemu guru di jalan, karena segan atau takut bersikap salah.

Guru begitu dipuji dan dihormati. Kalau disapa atau disuruh melakukan sesuatu, bangganya bukan main. Menjadi murid yang sering disuruh-suruh, memiliki arti yang luar biasa. Hingga kini, sebagian dari guru SD di kampung masih hidup dan masih kenal dengan saya.

Mereka pun ikut bangga atas pencapaian saat ini. Tak lupa, saya berikan hadiah buku Karunia tak Ternilai. Karena senangnya, guru pavorit saya, Pak Ngatiyo namanya, menelepon dengan senangnya.

Mengapa saya sebagai murid begitu hormat dan bangga pada gurun? Jawabnya pasti, selain integritas guru yang tinggi, juga sikap orang tua yang memuliakan guru.
Penghormatan orang tua kepada guru di depan anaknya, sangat besar dampaknya bagi anak, dalam menanamkan akhlak atau adab kepada guru. Kepada orang tua, nasehat sederhana ini harus dilakukan, “muliakan guru anakmu, agar anakmu memuliakan gurunya dana orang tuanya.”

Sebagai guru, kadang tidak banyak yang diharap dari murid-muridnya, selain menjadi pribadi yang beriman, berakhlak dan berilmu. Tidaklah mengharapkan pemberian materi atau yang lainnya. Melihat murid beradab di tengah masyarakat, bahagianya tak terkira. Mendengar kabar dari orang tuanya, bahwa si murid taat beribadah dan berbakti, sangat membahagiakan. Apalagi berprestasi gemilang di kancah ilmu pengetahuan.

Shubuh tadi, sebagai guru bahagia dan bangga rasanya ketika usai shalat berjamaah di masjid. Hujan yang cukup deras menghalangi langkah kembali ke rumah. Tiba-tiba seorang murid saya kelas 2 SD IT Dinamika Umat, Basith namanya, menghampiri dan memberikan payung.

“Pak Tanjung, ini payung agar tidak kehujanan”. Spontas saya bilang, “alhamdulillah, senang kali punya murid macam si basith”, di depan ayahnya pak Lutfi dan jamaah laiinya. Tentulah, akhlak. Macam ini muncul karena didikan orang tuanya di rumah, yang juga mjd model menghormati guru anaknya. Horas semua kawan.

Dongeng Bersama Ka Ojan

dongeng
Tema : Toilet Training

Riri seekor anak biri-biri sedang menangis. Ibunya bingung apa yang terjadi, karena anaknya tidak menjawab ketika ditanya.
Aha! Mungkin pak Gajah bisa membantu. Pak Gajah kemudian memainkan lawakannya, tapi Riri tetap saja menangis, Ibu Riri makin bingung.
Kali ini Paman Keledai ikut membantu. Dia bermain sulap untuk Riri, tapi Riri tetap saja menangis….tangisan Riri makin keras.

Ternyata….Riri menangis karena dia ingin buang air besar, Dia menahannya sedari bangun tidur. Oow …ibu biri-biri segera membawa Riri ke toilet.

Setelah keluar dari toilet. Riri baru bisa tersenyum dan meminta maaf. Ibunya kemudian menasehati.
“Jika kamu diam saja dan hanya menangis, maka tidak akan ada yang tahu apa yang sedang kamu rasakan, Riri lain kali, jika kamu ingin buang air besar, kamu harus bilang agar ibu bisa membantumu, ya.”
“Dan ibu akan mengajarimu cara menggunakan toilet agar kamu bisa mandiri.”

“Setelah itu, Ibu biri-biri mengajari anaknya bagaimana cara menggunakan toilet yang benar….
Sinopsis dongeng hari ini tentunya sudah menjadi problem real yang dihadapi oleh para pendiidik khususnya guru Paud dan anak SD usia dini umumnya kelas 1 dan 2.

Peran Ibu utamanya sangatlah penting untuk mengajarkan bagaimana anak agar bisa menggunakan toilet dengan benar, sehingga secara sadar anak sudah paham betul akan menjaga kebersihan diri dan lingkungannya.