Sekolah Anak Kita

Dr.H.Hasan Basri Tanjung, MA
Ketua Yayasan Dinamika Umat/Dosen UNIDA Bogor
*****

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pilu rasanya hati melihat kenyataan yang menimpa anak-anak kita belakangan ini. Peristiwa kekerasan dan pelecehan seksual seakan menjadi rangkaian mata rantai yang belum juga bisa diakhiri.

Sebagian anak mengalami nasib malang karena dianiaya oleh orang tuanya sendiri. Begitu pula seorang anak SD menganiaya temannya hingga tewas. Hingga seorang gadis kecil ditemukan tewas di dalam kardus setelah mengalami kekerasan seksual.

Sejatinya, anak-anak adalah perhiasan hidup dunia yang menyenangkan hati orang tua. Mereka dilahirkan bersih, jujur dan tiada nista, fitrah dan selalu condong kepada kebaikan. (HR Bukhari). Anak kecil selalu tampil apa adanya sehingga kehadiran mereka selalu dinanti dan dirindukan dalam keluarga (QS 3: 14, 18: 46).

Anak belajar dari kehidupan sehingga mereka adalah produk masa yang dilaluinya. Karena itu, kita wajib menyediakan tempat-tempat belajar (sekolah) terbaik bagi mereka.

Ada empat sekolah yang membentuk kepribadian mereka. Pertama, keluarga. Sekolah pertama bagi anak adalah keluarga. Dalam sebuah keluarga dibangun tata sosial dan etika seorang anak. Ayah dan ibu menjadi guru utama untuk menanamkan akidah tauhid, syariat, dan akhlak (QS 2: 132-133, 31: 13-19).

Sikap, kata, dan perbuatan orang tua menjadi model dan rujukan utama bagi anak (kurikulum). Dr M Nasih Ulwan dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam menyebutkan, keluarga menjadi wadah menanam akidah pohon tauhid dan syariat dengan keteladan, pembiasaan akhlak karimah, serta nasihat yang baik. Lalu, proses itu dikawal dengan pengawasan maksimal agar tumbuh menjadi pohon yang baik (syajaratun thayyibah).

Kedua, lembaga pendidikan (sekolah). Sekolah menjadi rumah kedua bagi anak, di mana tata sosial dibangun lebih terbuka. Sekolah harus menjadi komunitas baru yang aman dan nyaman agar anak bisa tumbuh normal bersama teman sebayanya.

Guru layaknya orang tua kedua bagi anak. Kurikulum yang baik akan membantu keluarga dalam pembiasaan sikap, kata, dan perilaku anak. Orang tua wajib memilih sekolah terbaik bukan termahal, yakni sekolah yang mengajarkan akidah lurus, syariat yang benar, dan akhlak yang baik.

Ketiga, lingkungan. Lingkungan sosial paling besar pegaruhnya, yakni kerabat, tetangga, teman sebaya, publik figur, tokoh masyarakat, pejabat negara, dan lainnya. Kejahatan, kekerasan, dan penyimpangan seksual sering kali dilakukan oleh orang dekat dan dikenal.

Orang tua harus memastikan anak pergi dengan siapa, di mana, main apa, dan berapa lama. Anak juga bisa belajar dari lingkungan alam sekitarnya. Jika alam masih terjaga, akan berdampak positif pada diri anak. Sebaliknya, jika alam rusak, hutan ditebang dan dibakar, polusi udara, asap kabut, dan hewan yang mati juga akan buruk bagi anak. Untuk itu, wajib bagi kita menjaga kelestarian alam semesta sebagai sekolah buat anak-anak masa depan.

Keempat, media. Sekolah keempat adalah media massa (cetak, elektronik, dan online), media sosial (Facebook, Twitter, dll), dan media komunikasi (HP, gadget). Dampak buruk siaran TV, internet, game online, gadget begitu nyata. Pornografi dan pornoaksi begitu mudah diakses.

Tayangan TV yang tidak mendidik dan HP yang merenggangkan hubungan keluarga. Warnet menjadi “sekolah” buruk yang bertebaran 24 jam. Anak pun bisa menjadi pribadi yang lemah, malas, dan pesimistis. (QS 4: 9).

Tidak ada kata lain kecuali kita harus hijrah berjamaah dari kemaskisatan, kezaliman, ketidakpedulian, kepura-kepuraan (ad-dzulumat) menuju ketaatan, keadilan, kepedulian, kejujuran (an-nuur). Kembali kepada keluarga dengan kasih sayang.

 

Muharram 1438 H

muharram 1
Muharram

Dua Momentum di Satu Muharram 1438 H.
Muharram adalah momentum diri untuk muhasabah waktu, mulai dari detik,menit,hari,minggu,bulan dan tahun.
Sungguh celaka dan akan binasa ketika waktu bergulir itu justru lebih buruk dari waktu saat ini.
Sungguh beruntung dan mulia bila waktu ini menjadi lebih baik dari yang lalu.
Berusaha, Bergerak dan Bangkit untuk menjadi lebih baik merupakan keharusan untuk meraih keberkahan dan kemuliaan.
Hari ini kegiatan untuk murid SD, anak-anak melaksanakan sholat dhuha bersama, lanjut spirit Muharram dengan Pak Kepala Sekolah. Melanjutkan dengan touring kampung di sekitar sekolah dengan membawa poster “Muharram Tahun Baru”.
Mengapa harus touring?? Jelas..bukannya selama kian tahun kita umat islam ini hanya gembar gembor hiruk pikuk dengan “euporia” tahun baru masehi dengan meniup terompet hura-hura dan pesta yang justru dampaknya menjerumuskan pada pendangkalan aqidah.
Kegiatan ini dilakukan untuk mengingat sejarah besar umat islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai eksistensi diri. Mengingat akan pentingnya menghargai waktu, menggunakan setiap momentum menjadi berharga dan bermakna.
Momentum ini pun kami gunakan untuk memotivasi murid SMP dengan Hado Basic Training bersama Kang Hadi.
“Menjadi Pribadi Maksi Gapai Impian”
Memaknai Hijrah dengan semangat dan motivasi kesadaran untuk menjadi diri yang sadar.
Menjadi pribadi sadar akan eksistensi diri. Dimulai dengan Iman dan keyakinan yang kuat. Mengambil potensi terbaik yang ada pada diri. Mengurangi keluhan yang selalu muncul, dan Segera bangkit dan memaafkan kegagalan serta Introspeksi diri dan ikhtiar sekuat tenaga.
Semoga kehadiran training ini bisa menggali kesadaran diri anak-anak didik kami khususnya murid SMP karena di usia inilah begitu banyak problematika hidup yang mulai muncul dan harus mereka hadapi.
Persoalan dengan teman, orang tua, lingkungan dan juga persoalan pada pembelajaran. Hal hal ini bisa mereka jalani dengan kesadaran diri yang sadar akan hakekat diri nya sendiri.

Silaturrahmi Orang Tua Murid SDIT dan Laporan Perkembangan Murid

Silaturrahmi ini merupakan agenda rutin tiap tiga bulan dilaksanakan. Moment ini menjadi spesial karena tidak hanya untuk berkomunikasi efektif dan lebih dekat mengenai perkembangan anak di sekolah tapi lebih membangun komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua.

Menjadi moment untuk terus bersama-sama memonitoring dan mengevaluasi program-program yang telah dilaksanakan serta sharing dan sosialisasi progres yang sedang dilaksanakan ataupun program on progres berikutnya.

Di silaturrahmi ini yang menjadi poin penting adalah Sosialisasi 4 Ranah Kecerdasan yang akan dijadikan acuan pada proses pembelajaran nanti. Sehingga anak-anak pada proses di pembelajaran lebih penekanan pada kecerdasan konasi dan afeksi.

Karena, nyatanya Tak dapat dipungkiri bahwa masih banyak dan sudah menjadi rahasia umum bahwa nilai atau angka lebih penting dan utama sehingga banyak orang tua yang merasa kecewa, sedih, bila nilai anaknya rendah.

Disini kami mengajak kepada semua orang tua bahwa “Adab/Karakter atau Akhlak Karimah lebih utama dari Pengetahuan.”

Karena itulah konsep Pendidikan Rosullulloh saw diawal yang ditanamkan pada anak-anak di usia masa awal perkembangannya bahkan dari dalam janin dimulai dari memilih pasangan hidup.

Insyaalah dengan Akhlak Karimah pendidikan akan berintegrasi dengan ilmu pengetahuan dan anak-anak tidak akan menjadi terbelakang hanya karena tidak bisa menguasai satu bidang ilmu umum.