Pada Selasa, 4 November 2025, murid SMPIT dan SMAIT Dinamika Umat beramai-ramai memasuki aula. Para guru pun telah hadir, lengkap dengan perangkat audio beserta kotak-kotak kudapan yang disediakan khusus untuk sebuah agenda. Agenda tersebut adalah seminar bimbingan konseling (BK), yang bertajuk "Bukan Rokok yang Menentukan Kerenmu!". Materi seminar dibawakan oleh seorang promotor gaya hidup sehat yang juga Project Officer Yayasan Lentera Anak, Beliau disapa Kak Bagja Nugraha, M.Pd..

Seperti biasanya, murid Dinamika Umat memulai agenda akbar dengan memperdengarkan pembacaan quran, serta menyanyikan lagu kebangsaan dan Mars Dinamika Umat. Dentuman irama marawis yang membangkitkan semangat juga tak lupa ditampilkan. Rangkaian pembuka tersebut kemudian dilengkapi dengan penyampaian kata sambutan oleh Wakil Kepala Sekolah SMPIT & SMAIT Dinamika Umat, Bapak Dimas Tri Atmojo, M.Pd..

Beliau juga menyampaikan kekhawatirannya akan peningkatan jumlah perokok di Indonesia. Berdasarkan data sensus, dari semua orang dewasa di kampung tempat Beliau menetap, hanya ada 2 orang yang bukan merupakan perokok. Kedua orang tersebut adalah Beliau dan menantunya sendiri. Oleh karenanya Beliau menganggap penting edukasi terkait bahaya rokok, baik bagi pengonsumsinya, maupun bagi yang mengalami kontak dengan asap dan residunya.

Acara inti seminar pun dimulai. Kak Bagja menyampaikan beberapa mispersepsi tentang rokok yang kerap ditmukan pada masyarakat Indonesia. Mispersepsi yang kerap ditemukan pada remaja adalah anggapan bahwa merokok membuat pelakunya terlihat keren. Anggapan ini Beliau nyatakan sebagai mitos belaka. Karena faktanya, merokok dapat menyebabkan warna gigi menjadi kuning, akibat penumpukan nikotin dan tar pada enamel gigi. Kontak langsung dengan tar membuat bibir perokok menerima panas, sehingga pigmentasi kulit bibir pada perokok lumrah terjadi. Tentunya gigi kuning dan kulit bibir yang tidak sehat membuat penampilan jadi tidak sedap dipandang.

Selanjutnya, Kak Bagja menyampaikan bahwa seiring dengan keputusan untuk terus menerus merokok, ada kualitas hidup yang akan terus menerus menurun. Semua manusia tentu akan mati, namun bagaimana kualitas kehidupannya selama ia masih bernyawa? Apakah ia bisa merasakan nikmat sehat dan bugar hingga akhir hidupnya? Apakah orang tercinta di sekitarnya terhindar dari penyakit akibat asap dan residu rokok seperti bronkitis, kanker, hingga serangan jantung?
Nasehat Kak Bagja telah membuka mata dan menguatkan alasan untuk tidak merokok. Terlebih lagi, Quran pun telah melarang seorang mukmin untuk mencelakai diri sendiri.
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ وَاَحْسِنُوْاۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ١٩٥
"Dan berinfaklah di jalan Allah, dan janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuatbaiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". (Q.S. Al Baqarah : 195)
Jika Allah telah melarang kita untuk membinasakan diri, maka pantaskah kita merusak tubuh sehat yang telah Ia anugerahkan?
Mari jaga diri dan keluarga kita dari bahaya rokok!
